Home / Pemerintah / Pendidikan

Sabtu, 27 Januari 2024 - 22:27 WIB

“Pengalaman Di Lingkungan Pesantren ”

  • Oleh: Nurullah

SUMENEP.Suksesi Indonesia.com- Tahun 2017 merupakan tahun dimana saya mondok untuk pertama kalinya ada rasa senang dan cemas di hati ini,tapi niat saya bertekad bulat untuk meneruskan pendidikan di pondok pesantren sejak SMA, aku mengira tinggal di pondok pesantren itu nyaman atau menyenangkan, selain mendapatkan kiriman uang dari keluarga (orang tua) setiap bulan, juga selalu dirindukan oleh keluarga yang ada di rumah.

Setelah lulus MTs, tepatnya pada tahun 2017, di sinilah awal pertama kali daftarkan di pondok pesantren oleh orang tua saya, karena orang tua saya sangat senang sekali ketika saya berada di lingkungan pesantren yang notabennya terkenal dengan akhlak yang baik dan pelajaran-pelajaran tentang keagamaannya lebih di utamakan.

Mungkin karena dari dulu orang tua saya suka dengan pendidikan agama, dan sudah banyak pengalaman-pengalaman tentang pondok pesantren, sehingga ketika lulus dari MTs kedua orang tua saya tampa rasa ragu-ragu dan tanpa banyak pertimbangan langsung mendaftarkan putranya ke pondok pesantren.

Baca Juga  Kadis Kominfosp Tanah Bumbu Gagas Transformasi Digital Pelayanan Publik Lewat “BerAKSI Smart Service, Satu Portal Semua Layanan”

Hari pertama saya berada di pondok pesantren, belum merasakan sedih karena pisah dengan orang tua atau keluarga, belum merasakan kesepian, dan juga belum merasakan susah karena keterbatasan dan kesederhanaan, karena jika menjadi santri baru biasanya di manja oleh santri-santri senior atau seseorang yang sudah lama mondok atau mondok terlebih dahulu sebelum saya,akan tetapi satu minggu kemudian, perasaan sedih karena pisah dengan keluarga (orang tua) sudah mulai tumbuh,hari demi hari kerinduan ini semakin membesar untuk yang terdalam.

Perasaan kesepian mulai terasa di lubuk hati yang paling dalam, kehadiran seorang teman seakan-akan tidak berpengaruh tidak bisa mengobati kegalauan hati karena di sebabkan kerinduan akan kehadiran sosok keluarga atau orang tua di hadapan saya, namun meskipun demikian, saya terus berusaha dan mencoba untuk bertahan, mencoba untuk sabar demi kebahagian dan impian, harapan orang tua yang di titipkan kepadaku.

Kegalauan yang ada pada hati saya, sedikit demi sedikit terobati oleh mata pelajaran di kelas, pertama kali memasuki kelas di pondok pesantren yaitu kelas “IBTIDA” ibtida’ yaitu kelas yang di tujukan bagi santri baru atau santri yang belum lancar baca tulis al-quran dan praktik ibadah.

Baca Juga  Pemkab Sidoarjo Terima Visitasi Kepeminpinan Nasional PKN Tingkat II Pusdiklat Kementrian Kominfo Tahun 2024

Dan mata pelajaran yang di kaji yaitu kitab “ALALA TANALUL ‘ILMA” merupakan salah satu kitab yang tidak hanya membicarakan tentang metode belajar, namun juga membahas tentang tujuan belajar, prinsip belajar, strategi belajar dan lain sebagainya yang secara keseluruhannya didasarkan pada moral religius agar menjadi manusia yang berkarakter baik.

Kitab ini menurut saya mampu mengobati hati saya yang sedang galau akan kerinduan, mungkin karena isi pembelajarannya yang selalu memotivasi. Selain itu kitabnya pun berupa syair-syair yang identik untuk di lagukan, sehingga mudah untuk di pahami atau di mengerti.
Setelah masa orientasi selesai, pelajaran mulai berjalan dengan kondusif, tugas menghafal setiap hari tidak berhenti. Kesulitan menghafal mulai saya rasakan, hal ini karena dipengaruhi oleh keterbatasan kecerdasan fikiran saya, dan saya memaklumi kondisi saya saat itu, akan tetapi kelemahan akal, tidak saya biarkan mematahkan cita-citaku, hampir setiap waktu istirahat dan jam jam santai pergunakan untuk belajar, meskipun demikian usaha itu belum membuahkan hasil yang bagus,hanya sabar yang dapat di lakukan.

Menghafal adalah rutinitas santri yang tidak bisa di tawar, karena sebagai pelatihan meningkatkan kecerdasan dan sebagai tolak ukur kemampuan seorang santri. mau tidak mau harus mengikuti program yang telah di tetapkan di pondok pesantren, meskipun setiap hari merasa sedih karena nilai yang saya peroleh rendah.

Baca Juga  KPU Sidoarjo Tetapkan Pasangan H. Subandi-Mimik Idayana Sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo Periode 2025-2030

“MANJADDA WAJADDA” kata mutiara yang di sampaikan ustadz, beliau memberikan motivasi ke para murid-murid di kelas dengan kata-kata itu.

Beliau menyampaikan kata kata itu yang bisa membuat memotivasi para santri/muridnya agar tidak patah semangatnya, Berawal dari motivasi beliaulah semangat ini tidak menurun,malah kini tambah berkobar atau meningkat kembali, saya yakin suatu saat nanti akan mendaptakn nilai yang terbaik dan mampu bersaing dengan teman-teman” itulah serangkain kata demi kata yang muncul di hati ketika saya memahami motivasi dari ustadz.

Oleh karena itu saya menghimbau kepada para pembaca, marilah kita ubah midset kita dari sekarang, midset yang suram kita ganti dengan midset yang cemerlang, insyallah jalan kita akan di mudahkan, dan keberhasilan cita-cita kita akan kita dapatan.

  • Penulis : Mahasiswa aktif semester akhir Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni Sumenep
    Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Baca Juga

Pemerintah

Peringatan Hari Santri 2025 di Tanah Bumbu Berlangsung Khidmat

Pemerintah

Bersama Program Coaching clinic SIM, Satpas Colombo Patut Diapresiasi Dalam Pelayanan Publik

Ekonomi

Desa Sumberkolak Serahankan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa Tahap Dua Tahun 2023.

Pemerintah

Plt. Bupati Sidoarjo Bersama Pj. Gubernur Jatim Susuri Sungai Mbah Gepuk untuk Atasi Banjir di Candi

Pemerintah

Kapolres Situbondo Pantau Arus Balik Lebaran dan Pengamanan Tempat Wisata

Pemerintah

Presiden Anak Yatim Indonesia Abah Zairullah Gelar Pertemuan Bersama Anak Yatim

Pemerintah

PemDes Desa Klurak Kecamatan Candi Meralisasikan Pavingisasi Jalan Usaha Tani

Pemerintah

Pemkab Sidoarjo Tingkatkan Kompetensi 40 Pejabat Pengawas